Selasa, 25 Oktober 2011

METODE PENDIDIKAN AGAMA UNTUK DEWASA DAN MANULA

METODE PENDIDIKAN AGAMA UNTUK DEWASA DAN MANULA
A.    Pendahuluan
Manusia adalah mahluk sosial yang eksploratif dan potensial. Dikatakan makhluk eksploratif, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan secara nyata.
Selanjutnya manusia juga disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal manusia memerlukan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Bimbingan dan pengarahan yang diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakekatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu bimbingan yang tidak searah dengan potensi yang dimiliki akan berdampak negatif bagi perkembangan manusia.
Dalam diri kita selain mempelajari tentang perkembangan jiwa keduniaan, kita juga mempelajari jiwa keagamaan karena kita harus melihat kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh sebab kebutuhan manusia yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbul ketimpangan dalam perkembangan.
Jiwa keagamaan termasuk aspek rohani (psikis) akan sangat tergantung pada aspek fisik, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu sering dikatakan kesehatan fisik akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental. Selain itu perkembangan juga ditentukan oleh tingkat usia. termasuk dalam usia dewasa dan usia lanjut.

B.  Metode Pendidikan Islam
Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan holos. Meta berarti “melalui” dan holos berarti “jalan” atau “cara”[1]. Dengan demikian, metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Imam Barnadid, metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut[2], sementara Hasan Langgulung pendapatnya tentang metode sangat simpel yaitu jalan untuk mencapai tujuan. Maksud dari tujuan ini bermaksud ditempatkan pada posisinya sebagai cara menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan ilmu atau sistematisasi suatu pemikiran[3]. A Zayadi menegaskan bahwa metode lebih memperlihatkan sebagai alat untuk mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan teori atau temuan.[4]
Muhibin Syah menjelaskan metode secara harfiah yang berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis.[5]
Dalam bahasa arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai kata, terkadang digunakan kata al-thariqah, manhaj, al-wasilah. Al-thariqah berarti jalan, manhaj berarti sistem dan al-wasilah berarti perantara atau meditor.[6]
Dari pendekatan kebahasaan tersebut terlihat bahwa metode lebih menunjukan kepada jalan, dalam arti jalan yang bersifat non fisik. Yaitu jalan dalam bentuk ide-ide yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
Selanjutnya jika kata metode dikaitkan dengan pendidikan, dapat membawa arti bahwa metode adalah jalan untuk menanamkan pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai serta keterampilan melalui institusi pendidikan. Menurut Tadrif (1989) yang di kutip oleh Muhibin Syah metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur-prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi  pelajaran kepada siswa.[7]
Adapun fungsi metode pendidikan secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional pendidikan[8]. Sedangkan dalam konteks lain, metode dapat merupakan saran untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang di perlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu[9]. Dari dua pendekatan ini dapat disimpulkan bahwa metode berfungsi mengantarkan suatu tujuan kepada objek sasaran dengan cara yag sesuai dengan pengembangan objek sasaran tersebut.
Dalam Al-Qur’an, metode ini dikenal sebagai sarana yang menyampaikan seseorang kepada tujuan penciptaannya sebagai khalifah di muka bumi dengan melaksanakan pendekatan dimana manusia ditempatkan sebagai mahluk yang memiliki potensi rohaniah dan jasmaniah yang kedua-duanya dapat digunakan sebagai saluran penyampaian materi pelajaran.
Adapun M. Thalib mengatakan bahwa fungsi metode  pendidikan adalah memberikan jalan kepada pendidik berbagai cara yang baik yang dapat dipergunakan dalam mendidik sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada pada objek didikan[10]. Oleh karena itu dalam mendidik, pendidik tidak dapat mengandalkan satu metode saja dan menyatakan mutlak benarnya metode tersebut serta menganggap bahwa metode tersebut dapat diterapkan pada situasi dan kondisi objek didik yang bermacam-macam, mengingat objek didik yang bermacam-macam serta situasi kondisi yang berbeda- beda, maka tidaklah bijaksana apabila pendidik hanya mengandalkan satu metode saja.
Dalam pendidikan Islam, metode yang tepat guna bila ia mengandung nilai nilai yang intrinsik dan eksrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam.
Dari rumusan-rumusan di atas dapat dimaknai bahwa metode pendidikan Islam adalah berbagai macam cara yang digunakan oleh pendidik agar tujuan pendidikan dapat tercapai, karena metode pendidikan hanyalah merupakan salah satu aspek dari pembelajaran, maka dalam menentukan metode apa yang akan digunakan, harus selalu mempertimbangkan aspek aspek lain dari pembelajaran, seperti karakter peserta didik, tempat, suasana dan waktu .

C . Sikap Keberagaman Pada Orang Dewasa
Usia dewasa merupakan usia yang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup, dengan kata lain orang dewasa sudah memahami nilai-nilai yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Orang dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantap.
Kemantapan jiwa orang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang sudah dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Pokoknya, pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan seseorang diusia dewasa sulit untuk diubah, jikapun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan pada pola pemikiran dan pertimbangan yang matang.
Sebaliknya, jika seorang dewasa memilih nilai yang bersumber dari nilai-nilai non agama, itupun akan dipertahankannya sebagai pandangan hidupnya. Kemungkinan ini akan memberi peluang bagi kecenderungan munculnya sikap yang anti agama .
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya maka sikap keber-agamaan pada usia dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2.      Cenderung bersifat realistis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.      Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan .
4.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri sehingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.      Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.[11]

D. Manusia Usia Lanjut Dan Agama
Akhmad yamani mengemukakan bahwa tatkala Allah SWT membekali insan itu dengan nikmat berpikir dan daya penelitian, diberinya pula rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenali alam sekitarnya sebagai imbangan atas rasa takut terhadap kegarangan dan kebengisan alam itu.
Hal inilah yang mendorong insan tadi untuk mencari-cari insan tadi untuk suatu kekuatan yang dapat melindungi dan membimbingnya di saat-saat yang gawat. insan primitif telah menemukan apa yang dicarinya pada gejala alam itu sendiri. Secara berangsur dan silih berganti gejala-gejala alam tadi diselaraskan dengan jalan hidupnya. Dengan demikian timbullah penyembahan terhadap api, matahari, bulan, atau benda-benda lain dari gejala-gejala alam tersebut.
Menurut Robert Nuttin dorongan beragama merupakan salah satu dorongan yang bekerja dalam diri manusia sebagaimana dorongan-dorongan lainnya, seperti : makan, minum, intelek dan lain sebagainya. Sejalan dengan hal itu maka dorongan beragamapun menuntut untuk dipenuhi sehingga pribadi manusia mendapat kepuasan dan ketenangan. Selain itu dorongan beragama juga merupakan kebutuhan insaniah yang tumbuhnya dari gabungan berbagai faktor penyebab yang bersumber dari rasa keagamaan.
Menurut Muzayyin Arifin, berdasarkan pandangan ulama yang telah memberikan makna terhadap istilah fitrah manusia yang diangkat dari firman Allah dan sabda nabi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa fitrah adalah suatu kemampuan dasar berkembangnya manusia yang dianugrahkan Allah kepadanya.
Didalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia. Komponen itu terdiri atas :
a.       Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada agama    islam.
b.      Kemampuan dasar untuk beragama islam (ad-dinul Qayyimaah) ,di mana faktor iman sebagai intinya.
c.       Mawahib (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi dan kecenderungan) yang mengacu pada keimanan kepada Allah.
Fitrah dapat dilihat dari dua segi yaitu : Pertama,segi naluri sifat pembawaan manusia atau potensi tauhid yang menjadi potensi sejak lahir. Dan yang kedua,dapat dilihat dari segi wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi-nabiNya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu itu merupakan satu hal yang tampak dalam dua sisi,ibaratnya mata uang logam yang mempunyai sisi yang sama.
Pada tahap kedewasaan awal terlihat krisis psikologi yang dialami oleh karena adanya pertentangan antara kecenderungan untuk mengeratkan hubungan dengan kecenderungan untuk mengisolasi diri. Terlihat kecenderungan untuk berbagi perasaan, bertukar pikiran dan memecahkan berbagai problema kehidupan dengan orang lain ( Rit Atkinson,1983 : 97).
Mereka yang menginjak usia ini (sekitar 25-40 Th) memiliki kecenderungan besar untuk berumah tangga ,kehidupan sosial yang lebih luas serta memikirkan masalah-masalah agama yang sejalan dengan latar belakang kehidupannya.
Selanjutnya pada tingkat kedewasaan menengah (40-65 th) manusia mencapai puncak periode usia yang paling produktif. Tetapi dalam hubungannya dengan kejiwaan, maka pada usia ini terjadi krisis akibat pertentangan batin antara keinginan untuk bangkit dengan kemunduran diri. Karena itu umumnya pemikiran mereka tertuju pada upaya untuk kepentingan keluarga, masyarakat dan generasi mendatang.
Adapun di usia selanjutnya yaitu setelah usia di atas 65 tahun manusia akan menghadapi sejumlah permasalahan. Permasalahan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktifitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan semangat.
Adapun sikap keberagamaan pada usia lanjut justru mengalami peningkatan dan untuk proses seksual justru mengalami penurunan.  Berbagai latar belakang yang menjadi penyebab kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia lanjut ,secara garis besar ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah :
1.      Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan .
2.      Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3.      Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4.      Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia , serta sifat-sifat luhur.
5.      Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan usia yang bertambah lanjut.
Selama proses menuju lanjut usia, individu akan banyak mengalami berbagai kejadian hidup yang penting (important life event) yang sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif, antara lain klimaterium, menopouse-andropouse, sangkar kosong (empty nest), berbagai kemunduran fisik, pensiun dan kejadian hidup lainnya yang dapat menyebabkan pemikiran yang negatif. Pada lanjut usia akan terjadi kehilangan ganda (triple loss) sekaligus yaitu kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen.[12]
Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan persoalan pada diri lanjut usia. Oleh karena itu para lanjut usia perlu memahami dan mengerti akan berbagai informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan bagaimana menyikapinya sehingga dapat menikmati hari-harinya dengan penuh kebahagiaan sampai akhir hayatnya yaitu dengan khusnul khotimah.
Secara fisik lanjut usia pasti mengalami penurunan, tetapi pada aktivitas yang berkaitan dengan agama justru  mengalami peningkatan, artinya perhatian mereka terhadap agama semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Lanjut usia lebih percaya bahwa agama dapat memberikan jalan bagi pemecahan masalah kehidupan, agama juga berfungsi sebagai pembimbing dalam kehidupannya, menentramkan batinnya.[13] Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli psikologi dan psikiatri C.G. Jung yang menganggap bahwa agama adalah sarana yang ampuh dan obat yang manjur untuk menyembuhkan manusia dari penyakit neurosis, dan penyakit neurosis yang diderita oleh orang yang berusia sudah 45 tahun keatas adalah berkaitan dengan soal kematian, menyangkut arti dan makna kehidupan[14]
Kebutuhan spiritual (keagamaan) dapat memberikan ketenangan batiniah. Rasulullah bersabda “semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Hawari, bahwa :
1. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada orang yang religius.
2 .Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan yang non religius.
3. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.
4. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
5. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.[15]
            Keintensifan pada kehidupan agama pada lanjut usia tidak hanya mempunyai sisi nilai positif pada aspek kejiwaannya saja, tetapi memiliki sisi positif pada aspek fisik dan sosialnya. Lanjut usia yang berminat pada keyakinan agama dan melaksanakan berbagai ritual yang ada dalam keyakinan beragamanya, memiliki proporsi yang berarti dalam menghadapi suatu masalah (cope) dengan lingkungannya, hubungan interpersonal dan stres yang diakibatkan oleh kesehatan fisik. Coping agama juga terkait erat dengan penyesuaian diri yang baik pada lanjut usia [16]
Adapun gambaran tentang cirri-ciri spiritualitas keagamaan lanjut usia  menurut James,  adalah sebagai berikut :
a. Kehidupan keagamaan sudah mencapai tingkat kemantapan.
b. Kecenderungan menerima pendapat keagamaan meningkat.
c. Mulai muncul pengalaman terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara sungguh-  sungguh.
d. Sikap cenderung mengarah pada kebutuhan saling mencintai dengan sesama serta sifat-sifat luhur lainnya.
e. Muncul rasa takut pada kematian yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
f. Ciri ke enam berdampak pada meningkatnya pembentukan sikap keberagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi di akhirat.[17]

E. Metode pendidikan agama untuk dewasa dan manula
Manusia usia lanjut dalam penelitian banyak orang adalah manusia yang sudah tidak produktif lagi. Kondisi fisik rata-rata sudah menurun, sehingga dalam kondisi yang sudah uzur ini berbagai macam penyakit sudah siap untuk menggerogoti mereka. Dengan demikian di usia lanjut ini terkadang muncul semacam pemikiran bahwa mereka berada pada sisa umur menunggu datangnya kematian.
Menurut Lita L. Atkinson, sebagian besar orang-orang yang berusia lanjut (usia 70-79 th) menyatakan tidak merasa dalam keterasingan dan masih menunjukkan aktifitas yang positif. Tetapi perasaan itu muncul setelah mereka memperoleh bimbingan semacam terapi psikologi.
Kajian psikologi berhasil mengungkapkan bahwa di usia melewati setengah baya, arah perhatian mereka mengalami perubahan yang mendasar Bila sebelumnya perhatian diarahkan pada kenikmatan materi dan duniawi, maka pada peralihan ke usia tua ini, perhatian mereka lebih tertuju kepada upaya menemukan ketenangan batin. Sejalan dengan perubahan itu, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan akherat mulai menarik perhatian mereka.
Perubahan orientasi ini diantaranya disebabkan oleh pengaruh psikologis. Di satu pihak kemampuan fisik pada usia tersebut sudah mengalami penurunan. Sebaliknya di pihak lain, memiliki khasanah pengalaman yang kaya. Kejayaan mereka di masa lalu yang pernah diperoleh sudah tidak lagi memperoleh perhatian, Karena secara fisik mereka dinilai sudah lemah. Kesenjangan ini menimbulkan gejolak dan kegelisahan-kegelisahan batin.
Apabila gejolak-gejolak batin tidak dapat dibendung lagi, maka muncul gangguan kejiwaan seperti stress, putus asa, ataupun pengasingan diri dari pergaulan sebagai wujud rasa rendah diri (inferiority). Dalam kasus-kasus seperti ini, umumnya agama dapat difungsikan dan diperankan sebagai penyelamat. Sebab melalui ajaran pengamalan agama, manusia usia lanjut merasa memperoleh tempat bergantung.
Dalam memberi perlakuan yang baik kepada kedua orang tua, Allah menyatakan : ”Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu , maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs 17 : 23)
F. Kesimpulan
Islam memandang bahwa segala fenomena alam ini adalah hasil ciptaan Allah dan sekaligus tunduk kepada hukum hukumNya, oleh karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah tersebut. Manusia harus mampu mengorientasikan hidupnya kepada kekuatan atau kekuasaan yang berada di balik ciptaan alam raya serta mengaktualisasikan hukum – hukum Allah melalui tingkah laku  dalam kegiatan hidupnya.
Kehidupan spiritual pada lanjut usia dapat memberi ketenangan batiniah, dimana spiritualitas berpengaruh besar pada kesehatan fisik dan kesehatan mental sehingga seorang lanjut usia mampu mengatasi perubahan atau stres yang terjadi dalam hidupnya dan dalam menghadapi kematiannya. Dengan  spiritualitasnya  lanjut usia lebih dapat menerima segala perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan pasrah kepada Allah SWT, yang tercermin melalui kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam menghadapi suatu masalah (coping) dengan lingkungannya.
Daftar Pustaka

Ahmad Zayadi, Manusia dan Pendidikan dalam Persfektif Al-Qur’an, PSPM Bandung 2004.
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam Islam, ( Jakarta : Gramedia 1998).
H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, cet 3 (Jakarta : Bumi Aksara 1994)
Hardywinoto, Dr., SKM., dan Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D.. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama
Hakim, Nurina S.Psi., M.Si., 2003. Lanjut Usia dan Kecerdasan Ruhani : Menuju Individu yang Khusnul Khotimah. Buku Kenangan Assosiasi Psikologi Islam (API) 1, 10-12 Oktober 2003. Solo
H Hawari, Dr Dadang. 1997. Al Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta. Dana Bakti Prima Yasa
H . M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bumi Aksara 1991)
Imam Barnadid, Filsafat Pendidikan,(Jogjakarta : Andi Offset 1990)
Jalaluudin. 2003. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Muhibin Syah, M. Ed Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Rosda 2003)
Muhamad Thalib 25 Asas Islami Mendidik Anak, ( Bandung : Irsyad Baitussalam 2001)
Syukur, Dr. Nico. 1990. Pengalaman dan Motivasi Beragama. Yogyakarta. Kanisius         



[1] H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bumi Aksara 1991) hal. 61
[2] Imam Barnadid, Filsafat Pendidikan,(Jogjakarta : Andi Offset 1990) hal. 89

[3] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam Islam, ( Jakarta : Gramedia 1998)hal. 183.
[4] Ahmad Zayadi, Manusia dan Pendidikan dalam Persfektif Al-Qur’an, PSPM Bandung 2004 hal 115.
[5] Muhibin Syah, M. Ed Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Rosda 2003) hal. 201
[6] Ahmad Zayadi, Manusia dan Pendidikan dalam Persfektif Al-Qur’an, PSPM Bandung 2004 hal 116
[7] Muhibin Syah, M. Ed Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : Rosda 2003) hal
[8] H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, cet 3 (Jakarta : Bumi Aksara 1994)hal 16
[9] Imam Barnadid, Filsafat Pendidikan,(Jogjakarta : Andi Offset 1996) hal 85
[10] Muhamad Thalib 25 Asas Islami Mendidik Anak, ( Bandung : Irsyad Baitussalam 2001) hal 11
[11] Jalaluudin. 2003. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
[12] Hardywinoto, Dr., SKM., dan Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D.. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama
[13] Hakim, Nurina S.Psi., M.Si., 2003. Lanjut Usia dan Kecerdasan Ruhani : Menuju Individu yang Khusnul Khotimah. Buku Kenangan Assosiasi Psikologi Islam (API) 1, 10-12 Oktober 2003. Solo
[14] Syukur, Dr. Nico. 1990. Pengalaman dan Motivasi Beragama. Yogyakarta. Kanisius
[15] Hawari, Dr Dadang. 1997. Al Qur’an Ilmu Keedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta. Dana Bakti Prima Yasa
[16] Hakim, Nurina S.Psi., M.Si., 2003. Lanjut Usia dan Kecerdasan Ruhani : Menuju Individu yang Khusnul Khotimah. Buku Kenangan Assosiasi Psikologi Islam (API) 1, 10-12 Oktober 2003. Solo
[17] Jalaluudin. 2003. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar